Menjadi
pebisnis adalah pilihan hidup bukan takdir. Tidak semua orang harus memilih
jalur untuk menjadi pebisnis. Setidaknya ada dua alasan mengapa orang memilihuntuk berbisnis.
- Terinspirasi dari orang yang dianggap sukses dari berbisnis; entah itu keluarga, tetangga, teman, atau figur piblik.
- Akibat hidup yang melarat sehingga terpaksa memulai berbisnis.
Saudara
dan saya termasuk golongan yang mana? Kalau kita pelajari, kebanyakan pebisnis
sukses terjun berbisnis karena terpaksa. Pendidikan minim, tidak suka bekerja
untuk orang lain, melihat kesempatan baik, keluarga melarat, tidak mempunyai
koneksi, untuk bekerja di perusahaan, dan jiwa pemberontak merupakan beberapa
alasan membuat kita menjalani bisnis.
Sebelum
memutuskan untuk memilih menjadi seorang pebisnis meskipun bukan karena dasar budaya kita (baca: Bisnis Bukan Budaya Kita), renungkan apa yang pernah
dikatakan Stephen Covey dalam buku larisnya “The
7th Habit of Highly Intellegent People”, khususnya kebiasaanh
pertama yang bertulis “begin with the end
in mind” (Mulailah dengan tujuan akhir dipikiran Anda). Apa maksud kalimat
ini? Sebagai pebisnis, anda tentu mempunyai tujuan-tujuan tersendiri, misalnya
: Mengapa Berbisnis, Apa yang mau diraih
dengan berbisnis, Mau dikenal sebagai siapa setelah meninggal dunia nanti.
Apakah dengan berbisnis anda juga ingin membuka lapangan kerja atau semata
ingin mengumpulkan harta buat diri sendiri?.
Untuk meraih impian seperti
tujuan-tujuan kita itu, barangkali kita berlatih untuk berimajinasi.
Mungkin kira-kira seperti ini,: Bayangkan
andai kita berada di suatu tempat yang tenang dan sunyi. Lalu kita berjalan ke
suatu ruang karena keingintahuan. Setelah melewati pintu utama, kita melihat
begitu banyak orang sedang duduk. Ada yang menangis sedih, ada yang termenung,
ada yang tertunduk layu, dan ada yang serius mendengarkan pidato sambutan orang
yang berdiri di podium. Ah, itu kan saudara kita sendiri. Mengapa dia di sana? Lho,
di baris depan duduk istri beserta dua anak tercinta kita. tampaknya mereka
sedang berduka cita. Baru tersadar bahwa kita memasuki rumah duka dan hebohnya
pula ternyata kita telah mati! Ya, begitu banyak orang termasuk teman binsnis,
pejabat, selebritis, pemasok, teman sekolah/kuliah, dan karyawan/karyawati
datang melayat memberikan penghormatan terakhir kepada kita sebelum dikubur
besok.
Mewakili keluarga dalam ucapan
terima kasih, saudara kita berkata, “Telah berpulang dengan tenang kepada Tuhan
Sang Pencipta, Suami, Ayah, Kakak, teman, Pimpinan perusahaan kami, di usia
yang ke-85 tahun. Semasa hidupnya beliau telah mengabdikan diri dengan bekerja
keras membangun grup perusahaan ini, menyediakan lapangan kerja bagi banyak
orang, bertahan terhadap goncangan dari luar, dan terus mengepakkan sayap
bisnis tanpa lelah. Hanya satu keinginannya yaitu, berbuat baik kepada sesama
dan menyumbang sesuatu untuk bangsa dan negara. Kita semua kehilangan beliau,
seorang pebisnis yang tangguh dan jujur, pekerja keras yang berintegritas,
disiplin dan dermawan. Namun jasa beliau akan terus teringat!”
Kemudian kita masuk ke dalam sebuah
ruangan lain di rumah duka itu dan mendapati pemandangan berbeda walaupun yang
meninggal juga kita sendiri. Di sana pimpinan kita di perusahaan lama
berpidato, “terima kasih atas kedatangan rekan kerja dan temah dari manajer
saya di upacara ini. Kita semua harus kehilangan dia, tetapi karya baktinya
selama ini sebagai salah satu Manajer andal di grup perusahaan ini sungguh
berarti. Semoga Tuhan menerima teman kita ini di sisi-Nya. Amin.”
Skenario
mana yang kita pilih dari hasil perenungan itu? Swaktu meninggal dunia, kita
ingin dikenang sebagai pebisnis ternama
atau sekadar profesional baik? Sekali
lagi pilihan ada di tangan kita masing-masing. Kita menentukan sendiri jalur
cerita dari perjalanan hidup dari awal sampai akhir, meskipun pilihan menjadi
pebisnis bukan karena lahir dari suatu budaya.
(Source:cerita Richie Indrajaya).

0 Response to "Alasan Seseorang Memilih untuk Berbisnis"
Post a Comment