Pada
zaman penjajahan Belanda hingga tahun 1980-an, bisnis bukan menjadi pilihan utama
bagi masyarakat kita. di zaman itu, kalau menjadi pegawai negeri/swasta,
dokter, pilot, insinyur, tentara, polisi, dan guru lebih penting dari pada
memilih untuk berbisnis. Alasan yang sentimen ini berlangsung sampai kira-kira
tahun 1980-an ketika lapangan kerja masih banyak tersedia, permintaan akan
tenaga terampil masih tinggi, dan jumlah sarjana tidak begitu banyak seperti
sekarang.
Berbisnis
bagi sebagian kalangan masih dipandang pinggiran atau tidak penting. Dianggap
aktivitas yang kurang terhormat, terkesan kurang glamor dan kurang menjanjikan
karier untuk menjadi sukses dan cemerlang di masa depan.
Para
orang tua saat itu selalu menasihati dan mengarahkan anaknya, “Kalau sekolah,
sekolah yang benar, supaya dapat nilai bagus sehingga gampang mencari kerja
dengan posisi yang penting!”. Ya, ini tidak lain, jelas bahwa anak diarahkan
untuk mendapatkan jabatan. Jadi sekolah untuk dapat jabatan, kira-kira seperti
itu.
Di
pertengahan tahun 1997, krisis ekonomi melanda negara-negara di Asia. Indonesia
termasuk salah satu negara yang terkena imbas paling parah, nilai mata uang
rupiah terdepresiasi sampai 400% terhadap dolar Amerika sehingga banyak
perusahaan yang bangkrut. Bangrut dan hengkangnya perusahaan, berlimpahnya
suplai para lulusan baru dari sekolah menengah/perguruan tinggi, dan kerusuhan
sosial Mei 1998, mempersempit lapangan kerja yang tersedia. Mau tidak mau
setiap orang dihadapkan pada dua situasi, yakni berkompetisi ketat dalam
mencari lowongan kerja atau bertahan hidup dengan berbisnis.
Jangan
heran jika krisis ekonomi tahun 1997, kita melihat banyak pengusaha kali lima
(PKL) bermunculan sebagai cara untuk mempertahankan hidup akibat terimbas PHK
(Pemutusan Hubungan Kerja). Di satu sisi kita harus memuji keberanian PKL untuk
memulai berbisnis, tetapi disisi lain mereka membuat kesemrawutan lalu-lintas
dan kekumuhan sebagian wajah kota. Ya, Mengapa mereka memilih untuk berbisnis? pertanyaan ini seharusnya bisa dijawab tapi sayangnya, dalam hal ini pemerintah
sepertinya enggan turun tangan membina para PKL, meskipun suatu saat mereka
dapat menjadi pengusaha yang tangguh! Namun, arah menuju pembinaan UKM (Usaha
Kecil dan Menengah) melalui kerja sama dengan BUMN besar sudah terlihat
sehingga diharapka UKM suatu hari dapat berkembang.
Kebijkan
pemerintah untuk memajukan bisnis skala kecil menengah pun sudah dirumuskan.
Mudah-mudahan realisasinya dapat segera diwujudkan lebih luas dan bukan menjadi
komoditas komoditas politik belaka.
Baca Juga Alaternatif Berbisnis Internet Berikut Atau : -
Berselancar Pada Gambar Di Bawah Ini :

0 Response to "Benarkah Bisnis Bukan Budaya Kita?"
Post a Comment